Showing posts with label Story. Show all posts

Rasa.


Logika dan perasaan adalah dua hal yang harusnya diseimbangkan. Tetapi sejauh yang saya pelajari, semakin hari manusia semakin didominasi oleh perasaannya dalam berbagai hal. Didalam setiap pengambilan keputusan, emosi selalu menang dan kemudian berkuasa.

Akan tetapi, berbagai keputusan yang diambil hanya didasari oleh rasa tanpa sedikitpun dipertimbangkan oleh logikanya biasanya selalu keliru.

Rasa biasanya cenderung melebih-lebihkan, menyeret hal-hal disekitarnya yang sebenarnya tak memiliki relasi sedikitpun untuk kemudian dipaksa ambil bagian dalam suatu masalah.

Keputusan yang diambil hanya dengan berdasarkan rasa tidak pernah memperdulikan akibat. Rasa hanya melihat satu sudut pandang, rasa mengambil keputusan hanya berdasarkan oleh apa yang dilihatnya saja.

Pada akhirnya, keputusan yang sudah diambil atas dasar rasa akan melahirkan penyesalan dan meneteskan kalimat: "seharusnya tidak seperti ini".
Thursday, 8 November 2018
Kategori: ,

Agak Jauh. Part #2



Terbangun karena pengumuman yang mengatakan bahwa sebentar lagi kami akan tiba di stasiun Kiaracondong, aku tidak asing dengan nama stasiun itu karena sewaktu aku kecil memang sering diajak ke sekitar daerah Keiracondong oleh kedua orangtuaku.

Akhirnya, tiba juga di kota dimana aku menghabiskan masa kecilku, Bandung. Aku begitu bersemangat untuk kembali memijakan kaki di kota kembang ini setelah sekitar 10tahun lamanya tidak kembali ke kota berhawa dingin ini.

Tak lama kemudian akhirnya kami tiba di stasiun kota Bandung, semua penumpang pun turun. Aku mengabari sepupuku yang berada di Bandung, tapi dia sedang ada kegiatan seminar jadi aku berniat untuk mengajak Robby dan Gombos untuk mengunjungi Gedung Sate hanya untuk sekedar berfoto disana sebagai bukti bahwa kami sudah benar-benar tiba di Bandung.


Kami menuju Gedung Sate dengan memesan taksi online, setibanya didepan Gedung Sate kami jajan berbagai jajanan yang dijajakan disana dan tentunya berfoto-ria didepan gedung yang sudah berdiri sejak jaman kolonial itu.



Setelah dirasa foto kami didepan gedung tua itu sudah cukup lalu kami langsung bertolak menuju bengkel paklekku di daerah Cibaduyut dengan kembali memesan taksi online.

Sepanjang perjalanan mataku tidak bisa lepas untuk melirik berbagai sudut kota parahiyangan ini. Senang sekali rasanya bisa kembali ke kota ini. Kulihat perubahan yang lumayan banyak dikawasan pusat kota Bandung ini seperti pepohonan di kawasan Tegalega yang sudah meninggi. Aku bahkan sampai tak menyangka kalau kawasan itu adalah Tegalega.

Sampai di bengkel paklek, ternyata beliau sedang tidak berada di bengkelnya lalu kamipun langsung saja menuju rumah lamaku yang kini ditempati oleh kedua sepupuku yang letaknya tak begitu jauh dari bengkel paklekku ini.

Kami menuju rumah lamaku dengan berjalan kaki, sengaja aku melewati gang-gang yang masih kuingat sembari mengingat-ingat kenangan masa kecil dulu sewaktu aku bermain-main di kawasan ini. Cibaduyut tak banyak berubah, masih seperti yang kukenal dulu dengan suasananya.

Hanya saja ada sesuatu yang menurutku aneh, aku merasa semua jalan, gang, dan rumah di kawasan ini sepertinya mengecil. Mungkin karena terakhir kali kesini tubuhku masih kecil sehingga merasa semuanya lebih besar dari sekarang.

Akhirnya tiba juga di rumah lamaku, masih sama juga seperti dulu hanya beberapa perubahan seperti cat dan pagar yang sudah direnovasi. Aku bertemu Linda, kamipun mengobrol tentang tempat-tempat yang nantinya akan kami kunjungi di Bandung ini dan tentang makanan-makanan yang sangat ingin kucicipi lagi disini.

Hanya Linda sendiri dirumah, karena kakaknya (Yanti) sedang berada di Jawa untuk berkunjung ke kampung halaman calon suaminya. Mungkin untuk membicarakan acara pernikahannya yang akan dilaksanakan dalam beberapa bulan kedepan.



Tak lama saat sedang bercerita tentang kuliner Bandung yang tidak ada di Medan, lewatlah seorang penjual tahu gejrot lalu tanpa pikir panjang langsung di stop oleh Linda sepupuku. Kami semua memesan tahu gejrot dengan porsi yang sama, hanya saja Robby dan Gombos sepertinya masih merasa asing dengan makanan ini bagi lidah mereka. Tak masalah pikirku.

Kami kelelahan, yang Robby dan Gombos lakukan hanya tertidur di kamar atas sedangkan aku kedatangan teman lamaku yaitu Yana dan Febby. Febby adalah teman dekatku sejak kami masih kecil sedangkan Yana adalah teman dekatku dikelas ketika masih SD.

Yang kami lakukan hanya mengobrol dan bernostalgia bersama-sama, mengingat tingkah laku kami ketika masih SD dulu, mengingat teman-teman lama dan bercerita tentang kabar mereka sekarang.

Hingga haripun menggelap, akupun kedatangan Bibiku yang mana adalah istri dari Paklekku yang bengkelnya kusinggahi siang tadi. Sebenarnya kami sudah bertemu siang tadi, akan tetapi dikarenakan keterbatasan kendaraan ditambah lagi aku sudah sangat ingin melihat keadaan rumah lamaku sehingga aku menolak dan menunda kunjunganku ke rumah Paklekku.

Malam harinya juga paklekku datang berkunjung, tetapi tidak untuk waktu yang lama. Dia hanya menanyakan kabar keluargaku di Medan dan tentang tujuan kami ke Tanah Jawa ini. Akupun meminjam motor paklekku untuk kami gunakan besok harinya menuju ke daerah Ciwidey, tentu saja dia meminjamkan.

Besok paginya kamipun bersiap pergi menuju daerah Ciwidey untuk mengunjungi kawah putih dan beberapa tempat menarik lainnya. Sebelum berangkat kami sarapan nasi kuning, salah satu makanan yang memang sudah begitu aku rindukan. 

Febby dan adiknya (Jepri) yang mana adalah teman lamaku juga akan ikut dengan kami menuju Ciwidey. Memang sejak dulu, keluargaku dengan keluarga Febby memang sangat dekat dan sudah seperti saudara sendiri.




Kami melewati jalan-jalan perumahan tempatku menghabiskan masa kecil dulu, dan langsung bertolak menuju Ciwidey. Perjalanan melewati Kabupaten Soreang, begitu banyak kereta kuda. Masih sama seperti dulu.

Setiba di kawasan kawah putih kami semua terkejut dengan biaya masuk sekarang yang begitu tidak masuk akal, aku tidak ingat totalnya berapa tapi yang pasti harganya sangat tidak masuk akal ditambah lagi begitu banyak akal-akalan mereka seperti jasa dan barang  dijual yang sebenarnya tidak begitu penting. Tapi mengingat aku sudah sangat merindukan tempat ini ditambah lagi Robby yang Gombos yang penasaran karena belum pernah kesini jadi harga mahal tadi aku hiraukan.








Kami naik menuju kawah putih dengan angkutan yang sudah disediakan oleh pengelola tempat ini, sampai diatas kami lihat ternyata sudah ramai pengunjung. Sesampainya diatas yang kami semua lakukan hanya berfoto kemudian turun lagi untuk mengunjungi tempat lain di daerah Ciwidey ini.

Setelah dari kawah putih dan mulai melanjutkan perjalanan menuju situ patenggang hujanpun turun walau tidak merata tetapi deras sehingga memaksa kami untuk membatalkan niatan kami berfoto di kebun teh Ciwidey yang kurasa berbeda dengan kebun teh di Sidamanik Sumut. Perbedaan kebun teh terletak pada keadaan tanahnya yang berbatu besar dan berbukit disini.

Kami tidak jadi berfoto karena hujan, dan langsung menuju situ patenggang, mereka bilang disana ada sebuah rumah makan berbentuk kapal yang besar dan sedang hits dikalangan para ABG jaman sekarang.





Sampai di rumah makan berbentuk kapal tersebut kami mencari makanan karena kami semua mulai kelaparan. Kami menemukan penjual yang menjual cuanki, makanan yang tidak ada di Medan dan salah satu makanan yang memang sudah kuincar jika akan berkunjung ke Bandung.

Tapi kelihatannya makanan disini mahal, kamipun membatalkan niat kami untuk makan di tempat tersebut. Kami hanya berfoto, dan hujanpun kembali turun dengan derasnya yang kemudian memaksa kami untuk memasuki rumah makan yang berbentuk kapal itu. Sembari menunggu hujan reda yang kami lakukan hanya mengobrol dan berfoto diatas "kapal" tersebut.


 
Setelah hujan mereda kamipun berniat untuk kembali pulang, tapi saat baru saja mulai berkendara kami kembali dihujani air yang kemudian membuat pakaian kami semua basah.

Tapi melihat langit yang semakin gelap membuat kami tetap melanjutkan perjalanan tanpa ada yang mengenakan jas hujan karena beberapa orang ada yang tidak membawanya. Seringkali kami menghadapi macet sepanjang perjalanan pulang, tapi akhirnya kami tiba juga dirumah setelah sebelumnya menyempatkan untuk membeli nasi padang yang letaknya tidak jauh dari rumah.

Tak lama ketika baru saja sampai, Yanti yang baru tiba dari Jawa pun sampai dirumah sehingga selanjutnya kami bercerita ini-itu sembari memakan bakso goreng yang juga tidak ada di Medan.

Semuanya lelah, kami pergi tidur karena besoknya kami berencana berkeliling melihat-lihat kota Bandung sekalian juga berbelanja di ITC Bandung, salah satu pusat perbelanjaan tekstil yang dikenal sangat amat murah.

Besok paginya semua bangun, sarapan, dan langsung segera bergerak menuju ITC Bandung sambil sebelumnya menyempatkan untuk berkeliling dulu. Aku memang berniat membelikan pacarku oleh-oleh baju dari Bandung, karena Bandung dikenal sebagai pusat fashion dimana barang-barang kebutuhan fashion berkualitas dijual murah di kota ini.

Aku, Robby, dan Gombos sangat terkaget-kaget melihat harga busana yang ditawarkan disini. Sangat amat tidak masuk akal. Kami rasa pakaian-pakaian seperti itu pasti akan dijual di Medan lebih mahal 200%  dari harga yang dijual disini.

Robby dan Gombos juga membeli beberapa untuk dibawa pulang ke Siantar.

Setelah selesai berbelanja pakaian sebagai oleh-oleh, selanjutnya kami ke daerah Leuwi Panjang untuk membeli makanan atau snack oleh-oleh khas Bandung seperti dodol garut dan lainnya.

Disini Robby begitu senang karena dia bisa sepuasnya memakan sample dari makanan-makanan yang dijual disini. Karena memang Robby dikenal pelit dan tidak mau rugi.

Sesudah selesai membeli oleh-oleh yang lumayan banyak kamipun kembali ke rumah, Robby dan Gombos kembali tidur di kamar atas. Linda pergi berkuliah sedangkan aku pergi berkunjung kerumah Paklekku yang letaknya lumayan jauh dari Cibaduyut dengan mengajak Jebri adiknya Febby.

Hingga hari gelap dan adzan berkumandang, aku dan Jepri baru tiba dirumah. Sesampainya dirumah aku lihat sepertinya mereka semua yang dirumah baru saja selesai makan. Mereka bilang makanan ini baru saja diberikan oleh ibunya Febby, seperti yang kubilang tadi bahwa keluarga kami memang sudah seperti saudara.

Malam harinya, dengan diantar oleh Paklekku kami pergi ke daerah lembang untuk memakan sate kelinci bersama Linda, Yanti, dan calon suaminya.

Kami memakan ketan bakar, beberapa memesan mie instan dan tentunya kami semua memesan sate kelinci. Setelah kenyang menyantap sate dari hewan mamalia tersebut kami kembali bertolak menuju rumah, karena besok paginya kami harus tiba di bandara Husein Sastranegara untu kembali ke kota Medan.

Karena sudah terlalu lelah, kami berniat melakukan pengepakan barang esok harinay pada pagi hari. Rasanya sangat tidak ikhlas untuk meninggalkan kota ini, tapi apa boleh buat karena tiket sudah kupesan dua bulan sebelumnya.

Besok paginya kami bangun cepat untuk melakukan pengepakan oleh-oleh yang lumayan banyak. Sedangkan Gombos hanya mengepak barang-barangnya sendiri karena dia tidak akan ikut pulang ke Siantar. Saat kami sedang mengepak, ibunya Febby dan Jepri menyempatkan untuk mengunjungi kami, akupun menyalami sambil pamit akan pulang dan berterimakasih untuk makanan yang sudah diberikan semalam.

Setelah selesai mengepak barang, kamipun sarapan dan langsung bertolak menuju bandara. Tapi kami kembali dihadapkan dengan masalah yang membuat jantung kami berdegup kencang karena Paklekku yang akan mengantar kami menuju bandara dengan mobilnya terjebak macet di perbatasan Bandung-Kabupaten Bandung.

Sampai akhirnya tiba juga dengan waktu yang sudah sangat mepet kami naik mobil dan langsung berangkat menuju bandara Husein Sastranegara. Sepanjang perjalanan aku hanya melihat-lihat suasata kota Bandung yang sebenarnya aku belum ikhlas untuk meninggalkannya. Sambil jantungku tetap bedegup kencang karena melihat jam yang sudah sangat-sangat mepet waktunya.

Setibanya di bandara, sebelum parkir kami mendengar pengumumman tentang pesawat menuju bandara kuala namu yang akan segera berangkat. Kamipun semakin panik dan langsung turun, mengambil barang-barang kami dan langsung berlari menuju pintu masuk bandara.

Aku tak sempat bersalaman dengan orang-orang yang masih berada didalam mobil karena sudah sangat panik. Tapi paklekku berlari mengikutiku menuju filter 1 pintu masuk menuju bandara.

Karena paniknya kami menyalami mereka dengan terburu-buru dan langsung menuju ke lokasi check in. Ternyata pengumuman yang kami dengar tadi bukanlah pengumumman untuk keberangkatan maskapai kami, tetapi untuk penerbangan maskapai lain dengan tujuan yang sama.

Setelah selesai check in kami menuju ruang tunggu, tapi saat kami melalui filter menuju ruang tunggu kamipun distop oleh petugas dikarenakan tenda yang akan kami bawa menuju lorong pesawat tidak diperbolehkan dan harus dimasukkan kedalam bagasi juga.

Terpaksa Robby kembali menuju lokasi check in untuk meletakkan tenda tersebut ke bagasi pesawat. Aku melihat pemandangan bandara yang begitu indah di ruang tunggu, karena hamparan bandara Husein yang luas dengan latar belakang yang bergunung-gunung. Aku menyempatkan diri untuk memfoto pemandangan indah tersebut.

Tak lama kemudian diumumkan bahwa penumpang maskapai kami diperintahkan untuk memasuki pesawat dan lalu Robby pun tiba. Akhirnya kami berjalan menuju pesawat dan menyempatkan untuk berfoto-foto di bandara dengan pemandangan yang indah ini.

Kami pun mendarat di bandara kualanamu sekitar pukul 13:30 WIB, dan langsung mengambil angkutan menuju rumah kami di Siantar.

Sungguh perjalanan singkat yang tak akan terlupakan. Sebenarnya aku sama sekali belum ikhlas untuk meninggalkan kota Bandung dan Jogja, tapi semoga secepatnya bisa kembali kesana dan berlibur untuk waktu yang lebih lama.

Ini hanyalah permulaan dari perjalananku yang panjang.

Agak Jauh.


Mungkin dari sinilah semuanya dimulai, cerita perjalanan panjang yang selama ini sudah ku idam-idamkan. Memang sejak tahun 2014 aku dan teman-temanku merencanakan akan melakukan perjalanan backpacking yang panjang ke seluruh Indonesia. Well, walaupun yang terjadi sangat tidak sesuai dengan apa yang kami rencanakan. Mulai dari rencana rute, cara melakukan perjalanan, hingga orang-orang yang akan ikut dalam perjalanan tersebut.

Tetapi tidak apa-apa, memang yang selalu terjadi dalam hidup ini adalah:

"10% rencana 90% improvisasi" - Sooganda

Senang rasanya ketika pada akhirnya bisa kembali ke tempat dimana aku menjalani masa kecilku. Ya, Bandung. Sudah lama sekali rasanya aku ingin kembali ke kota yang sejuk ini, mungkin sudah 9 tahun lalu sejak aku pertama kali ingin kembali menginjakkan kaki di "kampung halaman" ku ini.

Pada akhirnya, harapanku pun terwujud dengan dilakukannya perjalanan Medan-Jogja-Bandung yang kami lakukan selama seminggu. Memang rasanya sangat singkat mengingat kalau aku sudah lama tidak kembali ke "kampung halaman" ku ini.

Jika kalian bertanya-tanya kenapa kami melakukan perjalanan seru ini dengan waktu yang sangat singkat, jawabannya adalah karena seorang temanku tidak berani pulang sendiri.

"Ah mana berani aku pulang sendiri, udahlah sama aja kita" - Mhd Robby

Kami melakukan perjalanan hanya bertiga. Robby, Gombos, dan aku sendiri. Gombos yang selanjutnya akan mengadu nasib di tanah sunda kemudian tidak ikut pulang ke Siantar. Yang akan kembali pulang hanya aku dan Robby brengsek ini.

Sejujurnya aku sangat ingin sekali berada di kota parahiyangan untuk waktu yang lebih lama, tapi apa daya teman bajingan ini menghambatku. Robby tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi dikarenakan dia tidak bisa mengambil libur lebih dari seminggu di tempat kerjanya. Ya, dia masih menjadi budak hahaha

Sangat tidak ikhlas rasanya ketika akan meninggalkan Bandung, setelah sampai di bandara Kuala Namu aku ingin sekali rasanya untuk kembali ke Bandung.

Oke sudahlah, sekarang kita bahas sisi menyenangkan dari perjalanan ini.

Robby dan Gombos sangat exited terlebih ketika sudah sampai di bandara Kuala Namu, karena ini adalah pertama kalinya mereka menaiki burung besi ini. Norak.

Setelah pesawat mendarat di bandara Adi Sucipto, raut wajah mereka semakin menunjukkan kalau mereka tidak sabar untuk turun dan menginjakkan kaki di tanah jawa ini. Kemudian aku rekam Robby ketika menuruni tangga dan untuk pertama kalinya kakinya menginjakkan tanah jawa.

Setelah mengambil barang yang baru saja turun dari bagasi kami langsung berjalan keluar dimana kami sudah dijemput oleh Agil dan teman-temannya disana.

Kemi menuju kost Agil, mencuci muka, berganti baju, dan kembali keluar untuk mencari makan. Sebenarnya kami sangat ingin sekali makan di kabin pesawat. Tapi dengan melihat harganya saja perut kami sudah kenyang.

Setelah itu kami menuju Malioboro. Ketika dalam perjalanan menuju Malioboro, heran rasanya melihat pengendara Jogja yang begitu tertib dijalan. Malam haripun mereka tetap mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan Medan atau Siantar dimana jika hari sudah mulai gelap para pengendaranya tidak akan begitu memperdulikan rambu-rambu lalu lintas.

Semakin heran lagi ketika melihat para pengendaranya tak satupun ada yang membunyikan klakson. Hal ini kami rasa lucu mengingat kalau di Medan klakson adalah sesuatu yang wajib digunakan oleh para pengendara disana sekalipun sebenarnya mereka sendiri merasa terganggu dengan suara klakson. Aku menyadari ini dan berfikir mungkin hal ini terjadi dikarenakan orang-orang medan semuanya ingin menjadi "Bos" hahaha

Robby tidak pernah merasa cocok dengan makanan-makanan disana, karena makanan disana kebanyakan rasanya manis. Maklum saja, karena kalau di Sumatera rasa makanannya sangat kental dengan rasa asin.

Apalagi ketika kami memakan gudeg, Robby dan Gombos merasa sangat eneg ketika harus memakan makanan manis tersebut. Mereka merasa ganjil ketika harus memakan sesuatu yang manis bersamaan dengan nasi. Sedangnkan aku tidak merasa eneg sama sekali, mungkin lidah setiap orang berbeda ya.

Besoknya kami mengunjungi Mangunan, hutan pinus yang belakangan ngehits. Setelah dari  Mangunan selanjutnya kami pergi menuju pantai gesing, karena kami terlebih aku sangat ingin melihat dan merasakan berada di pantai yang airnya tidak bewarna coklat. Jujur saja pemandangan di pantai gesing sangat indah, entah mungkin karena pantai di Medan airnya semua bewarna coklat sehingga aku merasa pantai gesing sangatlah indah.





Sepanjang perjalanan di pantai aku selalu melihat sekeliling, rumah-rumah penduduk desa yang sederhana dan jawa hahaha. Juga banyak hamparan hutan yang begitu luas. Aku malah membayangkan bagaimana Jenderal Sudirman melakukan gerilya di hutan-hutan jawa seperti itu dengan para pasukannya. Bagaimana Jenderal Sudirman dengan tergesa-gesa menghindari tentara Belanda dibelantara hutan seperti itu, hahaha dasar maniak sejarah

Setelah dari pantai gesing selanjutnya kami menuju pantai ngelambor untuk melakukan snorkling, sulit membayangkan bagaimana snorkling di pantai selatan mengingat pantai selatan ombaknya ganas-ganas. Tapi setelah kami sampai di pantai ngelambor barulah aku mengerti kenapa pantai ngelambor bisa digunakan untuk snorkling. Kalau kalian melihat foto-fotonya di google pasti kalian juga akan mengerti bagaimana pantai ngelambor bisa digunakan untuk snorkling.





Hal yang lucu selama kami berada di pantai adalah ketika kami menyadari ternyata ada bagian pulau jawa yang tidak terdapat sinyal sekalipun dari operator yang katanya menjangkau seluruh negeri hingga ke pelosok.




Besoknya kami mengunjungi candi Borobudur tanpa Agil. Agil tidak bisa ikut kerena dia harus kembali menjadi budak (bekerja) hahaha, ketika mengunjungi candi Borobudur yang menemani kami adalah Pi'i yang mana adalah saudara dari Robby yang sedang berkuliah di Jogja.



Walaupun sebenarnya aku dan Gombos hanya mengandalkan GPS di smartphone untuk menuju Borobudur dikarenakan kami dan Robby yang naik Ojol menuju kost Pi'i terpisah dijalan haha

Kami pun bertemu di Borobudur untuk hanya sekedar melihat-lihat dan berfoto-foto, kemudian kami dengan terburu-buru menuju kembali ke Jogja karena kami berencana untuk menyempatkan mengunjungi tamansari dan keraton Jogja. Tapi sudah terlalu sore untuk mengunjungi kedua tempat yang sebenarnya sangat ingin aku kunjungi tersebut. Sebenarnya kedua tempat tersebut adalah salah dua tempat yang sudah ada dalam rencana perjalanan, tapi mungkin belum jodoh ya hahaha







Jadi kami memutuskan untuk kembali ke Malioboro saja karena Robby ingin membeli beberapa oleh-oleh yang dititip oleh teman-teman kami. Malioboro di siang hari sanagt ramai dan macet, mungkin karena Malioboro adalah salah satu destinasi yang sudah wajib hukumnya dikunjungi ketika ke Jogja.

Sepanjang aku berjalan di Malioboro aku banyak mendengar orang lain berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda. Ini berarti semua orang-orang ini adalah sesama turis seperti kami di Jogja.




Setelah berbelanja oleh-oleh, makan, dan mencetak tiket kereta api di stasiun selanjutnya kami kembali ke kost Agil untuk bersiap-siap berangkat menuju Bandung. Sembari menunggu kereta berangkat kami sempatkan untuk minum kopi joss yang letaknya tidak jauh dari stasiun Jogja.

Selanjutnya kami pamit kepada Agil dan teman-temannya dan kamipun memasuki stasiun, tidak lama setelah itu kereta pun berangkat. Suasana didalam kereta api sangat padat dikarenakan saat itu adalah long weekend sehingga orang-orang Bandung dan sekitarnya yang bekerja di Jawa melakukan mudik. Bahkan untuk meletakkan barang-barang kami saja kebingungan.

Kami pun tertidur di dalam gerbong kereta api, entah berapa kali aku rasa kereta api berhenti di beberapa stasiun sampai ketika kembali terbangun aku mendengar orang-orang didalam gerbong mengobrol dengan bahasa sunda. Kemudian aku melihat google maps, dan ternyata kami sudah berada di Tasikmalaya, kemudian aku kembali tidur hingga kami sampai di Bandung yang akan kuceritakan pada tulisanku tentang "Agak Jauh" selanjutnya.....

BERSAMBUNG~

Latest-Post

Powered by Blogger.

Member-of


Copyright © 2012 - Ade Suganda | Default Design by Johanes Djogan | Edited by @Sooganda